Iklan

Masukkan alamat email anda:

Thank you for Visit my blog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2012

Nabi Luth 'alaihi ssalaam & Kaum Saddom | Azab Hujan Batu


Nabi Luth ‘alaihi ssalaam  adalah keponakan Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Alloh mengangkat Luth ‘alaihi ssalaam  sebagai nabi dimasa Ibrohim ‘alaihi ssalaam  masih hidup dan mengutusnya berdakwah ke negeri Saddom di Palestina.
Kaum Saddom adalah orang-orang yang berbuat syirik dan melakukan perbuatan homoseksual. Kaum Saddom melakukan perbuatan keji yang menjijikkan yaitu hubungan seksual dengan sesama jenis laki-laki.
Luth ‘alaihi ssalaam  pun mendakwahi kaumnya,”Mengapa kalian tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah Rosul kepercayaan yang diutus kepadamu. Maka bertaqwalah kepada Alloh dan taatlah kepadaku”
“Mengapa kalian mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu bukan mendatangi wanita?” (Qs. an Naml : 55)
Namun, kaumnya malah marah dan menganggap Luth berlagak suci. Mereka bertekad akan mengusir Luth dan keluarganya. Kaum Saddom menantang Luth.
“Datangkanlah azab Alloh kepada kami jika memang kamu orang yang benar” (Qs. al Ankabuut : 29)
Alloh subhaanahu wata’aala menjawab tantangan kaum Saddom. Alloh mengutus para malaikatnya kepada Luth ‘alaihi ssalaam . Para malaikat menemui Luth ‘alaihi ssalaam  dengan berupa wujud laki-laki yang berwajah rupawan. Tentu saja Luth ‘alaihi ssalaam  tidak menduga bila mereka adalah para malaikat yang menyamar. Mendapati kedatangan tamu dengan wajah yang sangat tampan, hati Luth ‘alaihi ssalaam  sangat susah. Ia menjadi cemas bila kaumnya akan menggangu tamu-tamu itu. Luth ‘alaihi ssalaam  berusaha menyembunyikan para tamunya agar kehadiran mereka tidak diketahui kaumnya. Tapi istri Luth ‘alaihi ssalaam  berkhianat. Secara sembunyi-sembunyi, istri Luth ‘alaihi ssalaam  menemui kaum Saddom. Istri Luth ‘alaihi ssalaam  memberitahukan bila Luth ‘alaihi ssalaam  kedatangan tamu laki-laki yang wajahnya tampan. Mendengar berita tersebut, bergegas para pemuka kaum Saddom berbondong-bondong menuju kerumah Luth ‘alaihi ssalaam  ^ Melihat kedatangan kaumnya, Luth ‘alaihi ssalaam  mencoba menahan mereka.
“Hai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu” (Qs. Hud : 78)
Tapi tentu saja kaumnya menolak tawaran Luth ‘alaihi ssalaam . Mereka memaksa Luth ‘alaihi ssalaam  menyerahkan tamunya. Kaum Saddom sangat bernafsu mendapatkan tamu Luth ‘alaihi ssalaam . Dengan kasar mereka berusaha menerobos masuk ke rumah Luth ‘alaihi ssalaam . Luth menjadi kewalahan menghadapi mereka. Pada saat yang genting itulah, para tamu memberitahukan kepada Luth ‘alaihi ssalaam  bila mereka adalah utusan Alloh subhaanahu wata’aala. Malakat jibril pun menemui kaum Luth ‘alaihi ssalaam . Sayapnya memukul wajah-wajah kotor para pendosa itu. Seketika mereka menjadi buta. Mereka merasakan kesakitan. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan menahan perih.
“Pergilah dengan membawa keluargamu di akhir malam. Jangan ada seorangpun yang menoleh kebelakang. Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab seperti yang menimpa kaummu. Sungguh saat azab itu di waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Qs. Hud : 81)
Luth ‘alaihi ssalaam  segera membawa anak-anaknya pergi. Tidak ada seorang pengikutpun kecuali anak-anak Luth ‘alaihi ssalaam . Setelah kepergian Luth ‘alaihi ssalaam , malikat memporak-porandakan negri Saddom. Alloh subhaanahu wata’aala mengazab mereka dengan hujan batu. Diatas batu-batu itu tertulis nama-nama setiap penduduk Saddom. Dengan perintah Alloh subhaanahu wata’aala, batu-batu itu mencari sasarannya masing-masing.
Alloh subhaanahu wata’aala berfirman,”Dan Kami turunkan kepada mereka hujan batu. Amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu” (Qs. an Naml : 58)
Sebagai balasan kepada Luth ‘alaihi ssalaam  dan yang beriman bersamanya, Alloh subhaanahu wata’aala pun menyelamatkan mereka.
“Maka Kami selamatkan dia (Luth) beserta keluarganya kecuali istrinya” (Qs. an Naml : 57)
Demikianlah Alloh subhaanahu wata’aala membalas kekejian Kaum Saddom dengan siksaan yang menyakitkan di dunia. Di akhirat pun mereka juga akan merasakan azab dahsyat sebagai balasan bagi orang-orang yang tidak mau beriman kepada Alloh subhaanahu wata’aala !!!




>>sumber referensi / rujukan<<


Terjemahan : 

Alqur'anul Karim
Tafsir Ibnu Katsir
Kisah para nabi & Rosul Ibnu Katsir
Tafsir As-sa'di
Tahdzib Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam
Raudhah Al Anwar fi siroh An Nabiy Al Mukhtar
Ar-Rohiqul Makhtum Syafiyurrohman
Nisaa' Haular Rosul
Shohih As Siroh An Nabawiyah
Hakikat Syahadat Rosululloh

Sabtu, 17 Maret 2012

Kisah Perang Hudaibiyah | al Fathun Mubin

Hudaibiyah adalah nama daerah di perbatasan antara tanah haram Makkah dan tanah halal sejauh 22 km dari Makkah. Peperangan ini disebut Perang Hudaibiyah sebab didaerah hudaibiyah tersebut Quraisy menghalangi kaum muslimin untuk melakukan umroh.



Dalam peristiwa Hudaibiyah ini tidak terjadi peperangan, tetapi Alloh menyebutnya sebagai fathan mubiina yaitu kemenangan yang nyata. Demikian itu karena kaum muslimin mendapat keamanan dalam menyebarkan dakwah atas perjanjian damai Hudaibiyah dan menjadi sebab terjadinya Fathu Makkah.
Lihatlah kemenangan yang dicapai oleh sahabat rodhiyallohu ‘anhum dalam dua tahun mengumpulkan 7.000 tentara , di mana pada perang Ahzab hanya berkekuatan 3.000 tentara sedang pada Fathu Makkah berkekuatan 10.000 tentara.
Selama 6 tahun Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum tidak pernah mengunjungi Baitulloh Makkah-kota kelahiran-mereka padahal mereka sangat merindukannya karena selama ini Quraisy tidak membiarkan seorang pun dari sahabat rodhiyallohu ‘anhum yang datang ke Makkah kecuali disiksa, disakiti, dan diusir. Quraisy mengklaim dan berbangga bahwa mereka sebagai pilihan dan kekasih Alloh yang paling berhak untuk mengurusi rumah-Nya (Ka’bah)
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam melihat dalam mimpi bahwa beliau bersama sahabatnya rodhiyallohu ‘anhum melakukan umroh ke Baitulloh dalam keadaan mencukur atau memotong rambut mereka, maka pada bulan Dzulqo’dah beliau mengumumkan kepada Sahabatnya rodhiyallohu ‘anhum bahwa pada tahun ini beliau akan melakukan umroh.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mewaspadai kejahatan dan penghianatan Quraisy. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh kaum muslimin hingga kabilah-kabilah Arab badui yang tinggal di sekitar Madinah, tetapi mereka tidak memenuhi ajakan beliau karena keimanan mereka masih rendah. Maka beliau berangkat bersama Muhajirin dan Anshor berjumlah 1.400 orang lebih sesuai dengan kesaksian lima orang Sahabat yang ikut serta dalam perang tersebut yaitu : Jabir bin Abdillah, Baro’ bin Azib, Ma’qil bin Yasar, Salamah bin Akwa’, dan Musayyab bin Huzni.
Alloh menerangkan isi hati kaum badui yang tidak segera menyambut panggilan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya:
Orang-orang badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.” Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Alloh jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al Fath : 11)
Mereka berangkat dengan tujuan umroh, tetapi membawa senjata dan dalam keadaan siap berperang jika seandainya Quraisy memerangi mereka.
Umroh ini adalah umroh pertama kali yang dilakukan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam dan membawa misi paling besar dalam menyebarkan kewibawaan dan kekuatan Islam di segala penjuru, khusus-nya Jazirah Arab-di samping Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengajari para sahabatnya rodhiyallohu ‘anhum tata cara manasik umroh dalam Islam dan melenyapkan proganda dusta Quraisy bahwa merekalah kaum yang paling memuliakan dan menjunjung tinggi kehormatan Ka’bah.


PERJALANAN KE MAKKAH

Mereka berangkat dari Madinah hingga tatkala sampai di Dzulhulaifah atau Biir Ali (miqot bagi ahli Madinah) mereka ihrom untuk umroh dan memberi tanda pada hewan korban mereka sebanyak 70 ekor unta. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengirim Bisri bin Sufyan al-Khuzai rodhiyallohu ‘anhu  untuk memata-matai musuh dan setelah tiba di Rouha, 73 km dari Madinah, beliau mengirim rombongan dipimpin  oleh Abu Qotadah al-Anshori rodhiyallohu ‘anhu (beliau tidak melakukan ihrom) bersama beberapa sahabat rodhiyallohu ‘anhum menuju ke pantai laut merah karena ada berita bahwa di sana ada sekelompok musuh yang akan menyerang kaum muslimin.
Di tengah jalan Abu Qotadah rodhiyallohu ‘anhu berburu dan menangkap seekor keledai liar dan menghidangkannya kepada sahabatnya yang ihrom lalu mereka bertanya kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tentang hukumnya dan beliau mengatakan, “Boleh memakan dagingnya selagi kalian tidak membantunya dalam berburu.” (HR. al Bukhori : 1821)
Pasukan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam terus berjalan hingga tiba di Usfan, sejauh 80 km dari Makkah, dan Bisri rodhiyallohu ‘anhu datang membawa berita bahwa Quraisy telah mengetahui kedatangan kaum muslimin dan mereka telah menyiapkan tentara untuk menghadang sedang Kholid bin Walid keluar memimpin pasukan kuda Quraisy sejauh 64 km dari Makkah. Mengetahui hal ini, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum agar menyerang sekutu-sekutu Quraisy supaya tidak membantu Quraisy. Akan tetapi, Abu Bakr rodhiyallohu ‘anhu mengisyaratkan agar terus ke Makkah sesuai dengan tujuan semula yaitu untuk umroh dan siapa saja yang menghalangi maka kita perangi. Lalu Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk terus berjalan. Inilah kebiasaan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, yakni sering bermusyawarah dengan para sahabatnya rodhiyallohu ‘anhum dan beliau beliau diterima atau ditolak pendapatnya selagi bukan wahyu dari Alloh.


MUSYRIKIN MENGHADANG

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam memutar haluan menempuh jalan lain untuk menghindari hadangan musuh serta mengubah posisi pasukannya agar tidak berjibaku dengan pasukan kuda musyrikin dan di sana beliau sholat khouf (solat dalam keadaan takut dengan cara sebagian sholat bersama imam dan sebagian menjaga dan mengawasi musuh lalu bergantian sehingga masing-masing sholat satu roka’at bersama imam). Tatkala beliau lewat di Saniyah Muror (lembah menuju Hudaibiyah) Rosulullohsholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menaiki bukit Saniyah Muror akan diampuni dosanya sebagaimana Bani Israil yang diampuni.” (HR. Musilm : 2780)
Demikian itu jarena Bani Israil yang masuk Baitul Maqdis dalam keadaan sujud diampuni oleh Alloh sebagaimana sahabat yang ikut dalam perang Hudaibiyah ini.
Hingga ketika mereka tiba di Hudaibiyah unta Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berhenti. Maka sahabat berkata, “Unta mogok.” Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Tidak, justru ia ditahan oleh Alloh yang dahulu menahan gajah pasukan Abrahah. Demi Alloh, seandainya Quraisy memohon perdamaian kepadaku demi menjaga kehormatan Tanah Haram pasti akan kupenuhi.” Di sana para sahabat rodhiyallohu ‘anhum mengeluh kekurangan air, maka Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam menyemburkan air ke dalam sumur hingga air melimpah dan mereka tidak kekurangan air. (HR. al-Bukhori : 2731)


DIPLOMASI

Di satu sisi, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam hanya bertujuan menunaikan umroh dan tidak menghendaki peperangan. Beliau sangat berharap jika Quraisy masuk Islam tanpa perang, bahkan beliau menyesali kondisi Quraisy yang telah banyak terbunuh di medan perang. Sementara itu di sisi lain, Quraisy mengakui bahwa kekuatan kaum muslimin saat ini harus diperhitungkan, apalagi setelah kekalahan di perang di Perang Ahzab. Karena itu, urusan diplomasi dilakukan silih berganti oleh kedua belah pihak dalam rangka menuju perdamaian.
Quraisy mengutus  wakil mereka Budail bin Warqo’ menemui Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam maka beliau menjelaskan bahwa mereka datang hanya untuk tujuan umroh bukan perang. Budail kembali menyampaikan hal ini kepada Quraisy, tetapi merejka menolak dengan alasan rasa malu kepada bangsa Arab jika Muhammad masuk Makkah dengan jalan damai. Ini merupakan kemenangan besar bagi kaum muslimin terhadap musuh yang selama ini tidak mengenal perdamaian; sekaligus kehinaan bagi Quraisy sebab jika kaum muslimin dapat masuk ke Makkah dengan aman maka runtuhlah kewibawaan mereka di mata Arab dan bila kaum muslimin dihalangi maka bangsa Arab akan menghina mereka karena menghalangi mereka dari rumah Alloh.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengutus Khorosy rodhiyallohu ‘anhu tetapi hampir saja dibunuh oleh Quraisy jika tidak dilindungi oleh kaum Ahbasy. Kemudian beliau hendak mengirim Umar rodhiyallohu ‘anhu , tetapi karena alasan keamanan, beliau mengutus Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu sebab beliau dari Bani Umayyah yang memiliki pelindung di Makkah. Beliau menjelaskan kepada merka maksud dan tujuan Rosulullo sholallohu ‘alaihi wasallam ke Makkah. Lalu mereka menahannya di Makkah hingga tersebar berita bahwa Utsman rodhiyallohu ‘anhu telah di bunuh oleh Quraisy.


BAI’AT RIDHWAN

Kaum Quraisy menahan utusan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu di Makkah untuk kemaslahatan mereka. Akan tetapi, tersebar dan sampai berita kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa Quraisy telah membunuh Utsman rodhiyallohu ‘anhu .  Padahal, seorang  utusan harus diberi jaminan keamanan dan tidak boleh diganggu hingga menyampaikan keperluannya dan bahwasnnya membunuh seorang utusan berarti pengkhianatan dan pernyataan perang. Maka beliau mengajak para sahabat rodhiyallohu ‘anhum untuk bai’at setia memerangi Quraisy hingga akhir hayat dan beliau sholallohu ‘alaihi wasallam mewakili bai’at Utsman dengan tangan beliau yang mulia. Setelah bai’at ini terjadi Utsman rodhiyallohu ‘anhu datang, tetapi tangan Rosululloh dalam mewakili bai’atnya lebih baik dari tangannya sendiri.
Banyak keutamaan bai’at ini terutama menggetarkan Iblis dan bala tentaranya karena tekad bulat dari para sahabat rodhiyallohu ‘anhum untuk menumpas habis Quraisy. Apalagi keberanian mereka telah banyak terbukti seperti pada perang Badar, Uhud, Ahzab--padahal mereka berperang tanpa bai’at untuk mati; lalu bagaimana kiranya andaikan mereka berperang atas dasar bai’at untuk mati syahid ?!
Mengetahui kegigihan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum untuk berperang maka Quraisy diliputi rasa takut yang mendalam sehingga mereka mengirim beberapa utusan untuk berunding bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam.


IBROH
1.       Jika musuh menawarkan perdamaian maka itu menunjukkan kelemahannya, sedangkan kaum muslimin yang menerima perdamaian menunjukkan siasat dan rahmatnya kepada umat manusia sebab seandainya mereka bersikeras pasti tidak akan luput dari dua kebaikan yang mulia bagi mereka yaitu menang atau mati syahid.
2.       Rosululloh saw sangat menghendaki keislaman Quraisy sebab sabda beliau, “Yang paling baik di masa jahiliyah adalah yang paling baik di masa Islam jika mereka faqih,” sedangkan bangsa Arab adalah sebaik-baik bangsa dan Quraisy adalah sebaik-baik bangsa Arab karena kedudukan, kefasihan , kecerdasan, dan pengalaman mereka – dan sejarah menunjukka hal ini.
3.       Keberanian para sahabat ra yang tidak mengenal damai apalagi mengalah terhadap musuh dan kesempurnaan iman serta keyakinan mereka terhadap janji Alloh dan pertolongan-Nya.
4.       Dengan bai’at ini dan dalil lainnya para Sahabat ra mendapat keistimewaan ridhwanulloh (Alloh meridhoi mereka) yang khusus untuk mereka yang tidak dicapai oleh selain mereka. Dan keutamaan bai’at ini sebagaimana sabda Rosululloh saw:
“Tidak akan masuk neraka seorang pun yang ikut dalam bai’at ini di bawah pohon (Bai’at Ridhwan).” (Shohih at-Tirmidzi : 3866)
5.       Jika para Sahabat ra telah diridhoi oleh Alloh dan mereka ridho kepada-Nya maka kewajiban kita adalah meridhoi yang diridhoi oleh Alloh. Karena itu, kita meridhoi para Sahabat ra dan mendo’akan ridho setiap kali kita menyebut salah seorang dari mereka; berbeda dengan Syi’ah yang memusuhi orang-orang yang diridhoi oleh Alloh. Ini tidak mengherankan sebab agama mereka dibangun di atas dendam dan kedengkian terhadap para sahabat ra yang meruntuhkan kerajaan adidaya Romawi dan Persia**nenek moyang Syi’ah Rofidhoh.



Minggu, 04 Maret 2012

Kisah Nabi Ibrohim 'alaihi ssalaam Al-Kholil dan Nabi Ismail


Nabi Ibrohim ‘alaihi ssalaam  masih keturunan dari Sam bin Nuh ‘alaihi ssalaam . Ayah Ibrohim bernama Azar. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  punya saudara bernama Nahur dan Haran. Dari Haran, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mempunyai keponakan yang bernama Luth ‘alaihi ssalaam .
Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menikahi wanita yang sangat cantik bernama Saroh. Saroh adalah wanita kedua dibumi yang kecantikannya tiada tandingannya setelah Hawa.
Azar hijrah ke Huran bersama Ibrohim ‘alaihi ssalaam , Saroh dan Luth ‘alaihi ssalaam . Penduduk Huran pada masa itu menyembah tujuh bintang berhala.
Alloh subhaanahu wata’aala memilih Ibrohim untuk membawa risalah tauhid.
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrohim hidayah sebelum (Musa dan Harun) dan Kami mengetahui keadaannya” (Qs. al Anbiyaa : 51)
Ketika mendapati kaumnya begitu teggelam dalam beribadah kepada matahari, bulan, dan bintang-bintang, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mencoba mendakwahi mereka dengan membuat argumentasi. Ketika malam telah gelap dan Ibrohim ‘alaihi ssalaam  melihat bintang berbinar, berkatalah Ibrohim, “Inilah tuhanku”
Tapi, setelah bintang itu tenggelam, berkata ibrohim ‘alaihi ssalaam , Aku tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian Ibrohim ‘alaihi ssalaam  melihat bulan, ia pun berkata, “inilah tuhanku”, namun bulan itu juga tenggelam sehingga Ibrohim ‘alaihi ssalaam  berkata, “Sesungguhnya jika tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang yang sesat”
Manakala melihat matahari, Ibrohim berkata, “Inilah tuhanku, ini yang lebih besar” Tapi matahari itu juga tenggelam.
“Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan”
Dari dialognya, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  telah membuktikan kepada kaumnya bila apa yang mereka sembah berupa bintang, bulan dan matahari adalah benda yang tidak abadi. Mana mungkin benda-benda seperti itu dijadikan Tuhan sesembahan sementara benda-benda itu bisa sirna tenggelam ditelan hari. Namun, kaumnya tetap pada kebodohan mereka. Sedikitpun mereka tidak terpengaruh dengan nasihat Ibrohim ‘alaihi ssalaam  yang benar.
Suatu hari, kaumnya memperingati hari raya agama mereka yang menyembah patung-patung. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mengatakan bahwa dia sedang sakit sehingga tidak bisa ikut berpesta dilapangan. Pada saat kaumnya berbondong-bondong menuju lapangan, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menuju ke rumah berhala. Dirumah berhala itu terdapa banyak patung dan sesajian beraneka makanan.
“Apakah kalian tidak makan?” ujar Ibrohim ‘alaihi ssalaam  kepada patung-patung.
“Mengapa kalian tidak menjawab?” tanya Ibrohim ‘alaihi ssalaam  lagi. Tapi tentu saja Ibrohim ‘alaihi ssalaam  hanya menghina patung-patung yang disembah itu karena patung memang tidak bisa bicara dan tidak bisa makan. Patung hanyalah buatan manusia yang kemudian mereka sembah sendiri karena kebodohan.
Setelah mendapati patung-patung itu diam membisu, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  memukul semua berhala itu dan hanya menyisakan satu patung yang terbesar. Selesai dengan rencananya, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  pun kembali ke rumah.
Kaumnya selesai dari acara hari raya. Mereka menuju ke rumah ibadah. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati rumah berhala mereka dalam keadaan berantakan. Merka sangat marah ketika melihat semua patung-patung telah hancur. Mereka mulai berkesimpulan Ibrohim lah sebagai pelakunya. Segera mereka memanggil Ibrohim ‘alaihi ssalaam .
“Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap Tuhan-Tuhan kami hai Ibrohim ‘alaihi ssalaam ?” tanya kaumnya.
“Patung yang terbesar itulah pelakunya, tanyalah padanya jika ia memang bisa bicara” jawab Ibrohim ‘alaihi ssalaam .
Mendengar jawaban Ibrohim ‘alaihi ssalaam , kaumnya tersentak menyadari sindiran itu.
“Sungguh kamu tahu Ibrohim bila berhala ini tidak bisa bicara”
“Lalu mengapa kalian menyembahnya selain Alloh padahal ia tidak bisa memberi manfaat sedikitpun dan juga tidak bisa memberi mudhorot kepadamu?”
Kaum Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menjadi marah. Mereka tidak bisa membantah Ibrohim ‘alaihi ssalaam  sehingga mereka pun menggunakan kemarahan untuk menutupi kekalahan mereka.

Segera, mereka memutuskan untuk membakar Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Kayu bakar pun dikumpulkan dalam jumlah yang banyak sehingga menjadi api yang sangat besar. Kemudian mereka melempar Ibrohim ‘alaihi ssalaam  kekobaran api yang menyala-nyala itu. Pada saat itu lah Alloh menunjukkan kekuasannya. Alloh subhaanahu wata’aala berfirman kepada api,
“Hai api, dinginlah. Dan menjadi keselamatan lah bagi Ibrohim ‘alaihi ssalaam ” (Qs. Anbiya : 69)
Seketika Api menjadi dingin. Ibrohim pun selamat tanpa tersentuh sedikitpun oleh api.
Kaum Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menyaksikan mukjizat itu. Mereka sangat takjub. Namun, kesombongan mereka menjadikan mereka tetap tidak mau beriman kepada Alloh subhaanahu wata’aala.


Ibrohim Dan Raja Namrudz

Namrudz adalah Raja Babilonia yang kejam dan kafir. Ketika Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mendakwahinya agar beribadah kepada Alloh subhaanahu wata’aala, Namrudz malah menolaknya dan dengan sombong Namrudz mengaku sebagai Tuhan.
Berkata ibrohim ‘alaihi ssalaam , “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan”
Raja Namrudz berkata, “Aku pun bisa menghidupkan dan mematikan”
Lalu Raja Namrudz memanggil dua orang laki-laki. Yang satu dibunuhnya dan satu lagi dibiarkan hidup.
Perbuatan ini dilakukan Namrudz untuk menunjukkan bila dirinya adalah tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati.
Berkata lagi Ibrohim ‘alaihi ssalaam , “Sesungguhnya Alloh subhaanahu wata’aala bisa menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat”
Raja Namrudz terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa-apa atas tantangan Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Lalu Alloh subhaanahu wata’aala mengutus malaikat kepada Namrudz. Malaikat mendatangi Namrudz sebanyak tiga kali menyeru Namrudz agar mau masuk Islam, tapi raja yang sombong itu tetap saja tidak mau beriman. Akhirnya malaikat menantang Namrudz. Namrudz mengumpulkan semua tentaranya. Alloh pun mengirim tentara nyamuk dalam jumlah yang sangat banyak. Nyamuk-nyamuk itu menyerang tentara Namrudz dan memakan daging dan darah mereka sehingga tentara Namrudz mati. Lalu seekor nyamuk masuk kehidung Namrudz. Nyamuk itu menyerang dan menyakiti Namrudz. Raja Namrudz benar-benar tersiksa karena nyamuk itu. Kerap kali Namrudz memukul kepalanya dengan besi karena kesakitan akibat gigitan nyamuk. Akhirnya Namrudz pun mati dalam keadaan hina dan tersiksa.


Saroh Dan Raja Mesir

Ibrohim ‘alaihi ssalaam  dan Isterinya Saroh hijrah ke Mesir. Kedatangan mereka diketahui pihak kerajaan. Mereka menceritakan tentang kecantikan Saroh kepada sang raja sehingga Raja Mesir sangat tertarik kepada Saroh. Raja pun mengutus pengawal untuk menanyakan status Saroh kepada Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mengatakan bila Saroh adalah saudaranya. Setelah itu Raja memerintahkan agar Saroh dibawa menghadapnya.
Ibrohim ‘alaihi ssalaam  berkata kepada Saroh sebelum ia dibawa para pengawal, “Utusan kerajaan bertanya tentang engkau, maka kukatakan bila engkau adalah saudaraku karena hanya kita berdua yang muslim. Engkau adalah saudaraku dalam Islam, maka jangan kau dustakan ini didepan Raja”
Saroh pun berangkat ke istana. Setibanya di istana, raja benar-benar terspesona melihat kecantikan Saroh. Raja menempatkan Saroh di kamar yang megah. Kemudian Raja mendatangi Saroh di kamar bermaksud untuk menodai kehormatannya. Saroh pun berwudhu dan berdoa agar Alloh subhaanahu wata’aala menjaga kesuuciannya. Manakala sang Raja bermaksud menyentuh Saroh, seketika itu juga tubuh Sang Raja gemetaran lalu jatuh tersungkur. Raja itu mengulangi lagi niatnya. Maka Alloh menjadikan tubuh sang raja itu kembali gemetaran dan jatuh tersungkur. Demikian keadaan itu menimpa Sang Raja sampai tiga kali sehingga Raja menjadi ketakutan sendiri. Raja pun meninggalkan Saroh dan memerintahkan agar pengawalnya mengembalikan Saroh kepada Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Dengan penjagaan Alloh subhaanahu wata’aala, Saroh pun kembali ke sisi suaminya dalam kondisi suci seperti saat keberangkatannya ke istana. Kepada Saroh, sang Raja menghadiahkan seorang budaknya yang bernama Hajar. Setibanya Saroh, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  pun memutuskan untuk segera meninggalkan mesir. Berangkatlah mereka bersama Hajar.


Kelahiran Nabi Ismail

Saroh menghadiahkan Hajar kepada Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Ibrohim ‘alaihi ssalaam  pun menerima Hajar dan menikahinya. Dengan izin Alloh, Hajar hamil. Ibrohim sangat bahagia sekali karena dia sudah tua dan belum juga mempunyai anak. Sebaliknya, Saroh menjadi sangat cemburu. Saroh sudah lama menikah dengan Ibrohim ‘alaihi ssalaam  tapi ia belum juga hamil. Saroh bersumpah meminta Ibrohim tidak membiarkan Hajar serumah dengannya.
Alloh mewahyukan kepada Ibrohim ‘alaihi ssalaam  agar membawa Hajar pergi. Saat itu, Hajar telah melahirkan anak laki-laki yang mereka namai Ismail. Berangkatlah Hajar dengan menggendong Ismail menuruti langkah suaminya yang membawanya pergi ke Makkah.
Sesampainya ditempat yang dituju, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  meninggalkan keduanya. Tentu saja Hajar sangat takut karena dia ditinggal di padang pasir yang gersang tanpa ada manusia seorangpun yang tinggal di sana.
“Wahai Ibrohim, ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami?” Tanya Hajar seraya memegang ujung jubah Ibrohim. Ibrohim hanya diam.
“Apakah ini perintah Alloh?” tanya Hajar lagi.
“ya” barulah Ibrohim ‘alaihi ssalaam  bersuara.
“Kalau begitu, Alloh tidak akan menyia-nyiakan kami” ujar hajar dengan keimanannya.
Ibrohim ‘alaihi ssalaam  pun pergi. Hajar hanya bisa memandangi kepergian suaminya sambil mendekap Ismail ‘alaihi ssalaam  dengan kasih sayang.
Setelah Ibrohim ‘alaihi ssalaam  lenyap dari pandangannya, Hajar menyusui Ismail. Ia pun makan dan minum bekalnya sampai lama-kelamaan habis. Setelah bekal mereka habis, Hajar dan Ismail ‘alaihi ssalaam  mulai kehausan. Hajar berusaha mencari air. Diletakkannya Ismail ‘alaihi ssalaam , lalu ia mulai mendaki bukit Shofa untuk melihat-lihat ada orang yang bisa menolongnya. Namun, tidak ada siapapun yang dilihatnya. Hajar kembali mendaki bukit Marwah. Tetap saja tidak ada orang yang dilihatnya. Terus, Hajar berulang-ulang berlari mendaki bukit Shofa dan Marwah. Sembari mendaki, matanya menoleh kearah Ismail ‘alaihi ssalaam  yang tergolek sendirian. Hajar mendaki antara Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali, itulah sebabnya manusia sampai sekarang melakukan ibadah Sa’i antara kedua bukit tersebut.
Ketika Hajar berada di atas bukit Marwah, ia mendengar suara yang memerintahkannya untuk diam. Ternyata, Hajar mendapati malaikat yang berada disuatu tempat yang nanti dinamai mata air Zam-zam. Malaikat itu mengais-ngais tanah. Lalu muncullah air yang terus mengalir. Tentu saja Hajar sangat bahagia.Hajar memuji Alloh subhaanahu wata’aala dan sangat bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya itu. Dengan bergegas ia meminum airnya dan menyusui Ismail ‘alaihi ssalaam .
Beberapa tahun berlalu. Dengan tabah dan sabar, Hajar tinggal di padang pasir yang tandus bersama Ismail ‘alaihi ssalaam  yang mulai tumbuh dewasa. Kemudian Alloh mengutus kabilah Arab Jurhum. Ketika melihat Hajar, mereka memutuskan untuk tinggal didekat Hajar. Hajar pun dengan senang mengizinkan mereka. Akhirnya, Hajar mempunyai tetangga yang menemani mereka.
Ismail ‘alaihi ssalaam  semakin hari tumbuh sebagai pemuda yang tampan dan gagah. Keluarga Arab Jurhum sangat menyukai Ismail ‘alaihi ssalaam . Akhirnya mereka meminta agar Hajar menikahkan Ismail ‘alaihi ssalaam  dengan putri mereka. Hajar menganggap itu usul yang baik. Menikahlah Ismail ‘alaihi ssalaam . Tak lama kemudian , Hajar tertimpa sakit. Lalu Hajar pun meninggal.
Suatu hari, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mengunjungi Ismail ‘alaihi ssalaam . Namun, Ismail ‘alaihi ssalaam  sedang berburu. Di rumahnya Ibrohim hanya bertemu dengan menantunya.
“Bagaimana kehidupan kalian?” tanya Ibrohim ‘alaihi ssalaam
“Kondisi kami sangat sulit dan memprihatinkan” keluh istri Ismail ‘alaihi ssalaam .
“Kalau suamimu pulang, salamku kepadanya dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya” pesan Ibrohim ‘alaihi ssalaam  lalu ia pun pergi.
Sepulangnya Ismail ‘alaihi ssalaam , ia merasakan sesuatu. “Apakah ada yang datang?”
“Ya” jawab istri Ismail ‘alaihi ssalaam  lalu menceritakan perihal Ibrohim ‘alaihi ssalaam .
“Itu adalah ayahku dan ia memerintahkanku agar menceraikanmu”
Ismail ‘alaihi ssalaam  langsung melaksanakan perintah ayahnya karena ayahnya adalah nabi yang ucapannya tidaklah diikuti oleh hawa nafsu. Setelah itu , Ismail menikahi wanita lain. Selang beberapa waktu kemudian, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  datang lagi.
“Suamiku sedang berburu” ujar istri Ismail ‘alaihi ssalaam  yang baru saat Ibrohim ‘alaihi ssalaam  bertanya tentang Ismail ‘alaihi ssalaam .
“Bagaimana kehidupan kalian?” tanya Ibrohim ‘alaihi ssalaam
Istri Ismail ‘alaihi ssalaam  yang baru adalah wanita yang sholihah. Ia pun memuji Alloh ‘alaihi ssalaam  dan mensyukuri kebaikan suaminya.
“Kalau suamimu pulang sampaikan salamku dan katakan agar ia menguatkan palang pintunya” pesan Ibrohim ‘alaihi ssalaam  sebelum ia beranjak pergi.
Ketika Ismail ‘alaihi ssalaam  pulang, ia bertanya, “Apakah ada yang datang?”
“Ya” jawab istrinya lalu bercerita perihal Ibrohim ‘alaihi ssalaam .
“Itu adalah ayahku, ia memerintahkanku agar mempertahnkanmu sebagai istriku” jelas Ismail ‘alaihi ssalaam .
Ibrohim ‘alaihi ssalaam  datang untuk yang ketiga kalinya. Akhirnya Alloh mempertemukan mereka. Ismail ‘alaihi ssalaam  menyambuat ayahnya dengan sukacita.
“Wahai Ismail, Alloh memerintahkanku agar membangun rumah Ibadah untuk manusia di sini”
“Saya akan membantumu, ayah”
Maka mulailah mereka membuat pondasi baitulloh ka’bah.


Kisah Penyembelihan Ismail  ‘alaihi ssalaam

Semakin lama, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  semakin mencintai dan menyayangi Ismail ‘alaihi ssalaam . Alloh pun menguji Ibrohim ‘alaihi ssalaam  melalui mimpi yang terjadi setiap malam selama tiga hari berturut-turut. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menceritakan mimpinya itu kepada anak tercintanya itu.
“Sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu…” ujar Ibrohim ‘alaihi ssalaam .
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAlloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” jawab Ismaill ‘alaihi ssalaam .
Ibrohim ‘alaihi ssalaam  lalu membaringkan Ismail ‘alaihi ssalaam  dengan menelungkupkan wajahnya agar saat menyembelih dia tidak melihat wajah anaknya. Bagaimanapun Ismail ‘alaihi ssalaam  adalah anaknya yang sangat dicintai dan disayanginya. Namun, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  tunduk dan patuh pada perintah Alloh karena mimpi seorang nabi adalah wahyu. Saat hendak menyembelih, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  membaca basmallah dan bertakbir. Ismail ‘alaihi ssalaam  mengucapkan syahadat. Keduanya telah siap melaksanakan apa yang diwahyukan Alloh dengan sangat sabar. Pada saat yang mencekam itulah, Alloh berfirman…
“Wahai Ibrohim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh ini adalah benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu (Ismail) dengan sesembelihan yang besar” (Qs. ‘alaihi ssalaam h Shaffat : 102-107)
Alloh meebus Ismail ‘alaihi ssalaam  dengan seekor domba putih bertanduk. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  diperintah membebaskan Ismail ‘alaihi ssalaam  dan menyembelih domba tersebut. Tentu saja Ibrohim ‘alaihi ssalaam  dan Ismail ‘alaihi ssalaam  sangat bersyukur. Demikianlah Alloh menguji keimanan hambanya. Sesungguhnya Ibrohim ‘alaihi ssalaam  dan Ismail ‘alaihi ssalaam  memang hamba-hamba Alloh yang sabar dan taat pada Robb-Nya!


Kehamilan Saroh

Suatu hari, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  kedatangan tamu. Setelah menyambut mereka, Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menemui istrinya lalu kembali lagi menemui sang tamu dengan membawa daging anak sapi yang sudah matang.
“Silahkan makan,” ujar Ibrohim ‘alaihi ssalaam . Namun, tamu-tamunya itu tidak sedikitpun menyentuh hidangnnya. Hati Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mulai disusupi rasa takut.
“Jangan takut, sesungguhnya kami adalah malaikat yang diutus kepada kaum Luth” ujar malikat. Barulah Ibrohim ‘alaihi ssalaam  mengetahui perihal tamunya. Hatinya menjadi lapang. Pada saat itulah malaikat menyampaikan berita gembira bahwa Saroh akan hamil dan melahirkan anak yang bernama Ishaq ‘alaihi ssalaam , kelak dari Ishaq akan lahir Ya’qub ‘alaihi ssalaam  dan anak keturunannya. Mendengar berita gembira , Saroh yang berada dibalik tirai menjadi terkejut.
“Sangat mengherankan, apakah aku akan melahirkan padahal aku seorang permpuan yang sudah tua dan suamiku pun juga sudah tua? Sungguh ini benar-benar mustahil…” seru Saroh tak percaya.
“Apakah kamu heran dengan ketetapan Alloh? Itu adalah rahmat dan berkah Alloh atasmu hai Ahlulbait. Sesungguhnya Alloh Maha Terpuji dan Maha Pemurah” (Qs. Hud : 72)
Begitulah Alloh subhaanahu wata’aala membalas kesabaran dan ketaatan para hambaNya. Taklama, Saroh pun mulai hamil. Saroh dan Ibrohim ‘alaihi ssalaam  menjadi sangat bahagia. Terlebih saat lahirlah bayi laki-laki yang sehat dan mereka namai Ishaq ‘alaihi ssalaam .


Kematian Ibrohim

Saroh hidup bersama Ibrohim ‘alaihi ssalaam  selama berpuluh-puluh tahun dalam rentang usia yang sangat tua. Pada saat usia Saroh 129 tahun, ia pun meninggal. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  sangat berduka karena ia sangat mencintai istrinya itu. Ibrohim ‘alaihi ssalaam  hidup sampai berumur 200 tahun. Kemudian ia pun meninggal. Ismail ‘alaihi ssalaam  dan Ishaq ‘alaihi ssalaam  menguburkan mayat ayah mereka disisi kuburan Saroh.





>>sumber referensi / rujukan<<


Terjemahan : 

Alqur'anul Karim
Tafsir Ibnu Katsir
Kisah para nabi & Rosul Ibnu Katsir
Tafsir As-sa'di
Tahdzib Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam
Raudhah Al Anwar fi siroh An Nabiy Al Mukhtar
Ar-Rohiqul Makhtum Syafiyurrohman
Nisaa' Haular Rosul
Shohih As Siroh An Nabawiyah
Hakikat Syahadat Rosululloh

Kamis, 23 Februari 2012

Kisah Nabi Sholih 'alaihi ssalaam & Kaum Tsamud | azab petir dan gempa



Tsamud adalah salah satu kabilah yang masyhur. Tsamud masih keturunan Sam bin Nuh  ‘alaihi ssalaam . Tsamud tergolong bangsa arab yang tinggal di Hijr.
Kaum Tsamud adalah golongan yang diberi karunia ilmu pengetahuan dibidang pembangunan. Mereka mampu membangun istana-istana yang megah. Mereka juga mampu memahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah.
Tsamud adalah kaum yang kafir. Maka Alloh subhaanahu wata’aala mengutus nabi Sholih  ‘alaihi ssalaam . Dakwah para nabi adalah sama. Mereka menyeru agar manusia hanya beribadah kepada Alloh subhaanahu wata’aala semata.
Sholih berkata, “Ya kaumku sembahlah Alloh. Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Alloh” (Qs. al A’roof : 73)
Namun, kaum Tsamud pun mendustakan Sholih  ‘alaihi ssalaam . Mereka menganggap Sholih  ‘alaihi ssalaam  terkena sihir.
Kaum Tsamud berkata, “Datangkanlah bukti jika engkau memang benar” (Qs.  ‘alaihi ssalaam y Syu’araa : 154)
Maka Alloh subhaanahu wata’aala menolong Sholih  ‘alaihi ssalaam  dengan memberikan mukjizat berupa seekor unta betina yang keluar dari sebongkah batu. Unta betina itu muncul dihadapan Kaum Tsamud . Kepada kaumnya Sholih  ‘alaihi ssalaam  menasehati agar mereka tidak mengganggu unta betina yang sedang hamil itu. Unta itu pun hidup ditengah-tengah kaum Tsamud dan Sholih memerintahkan agar unta itu diberi jatah untuk minum dari sumur penduduk. Kaum Tsamud dan Unta bergiliran untuk minum. Sehari jatah bagi penduduk, dan sehari jatah untuk unta betina. Begitu terus mereka bergiliran.
Lama-kelamaan, kaum tsamud merasa terganggu dengan kehadiran si unta betina yang telah melahirkan anaknya itu. Mereka sudah tidak tahan lagi bila harus berbagi jatah air. Maka para pemuka kaum tsamud berkumpul dan bersepakat membunuh si unta.
Tokoh pembunuh adalah Qidar bin Salif dan Mishra bin Mahraj. Keduanya mengajak tujuh orang lain dari kaumnya.
“Dan adalah dikota itu, sembilan laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan” (Qs. an Naml : 48)
Mulailah mereka mengincar si unta. Lalu Qidar bin Salif yang pertama kali membunuh si unta dengan menyembelihnya dibantu rekan-rekannya. Anak unta segera berlari dan berteriak tiga kali.
Begitu mengetahui untanya telah di bunuh, Sholih  ‘alaihi ssalaam  mendatangi kaumnya dan berkata, “Bersukrialah kalian di rumah selama tiga hari”
Tapi orang-orang kafir itu malah mencemooh Sholih  ‘alaihi ssalaam . Sedikitpun mereka tidak takut terhadap ancaman Sholih  ‘alaihi ssalaam  !
Tiga hari setelah pembunuhan si unta, Alloh subhaanahu wata’aala pun mendatangkan azabnya berupa petir dan gempa
“Dan satu suara keras yang mengguntur menyambar orang-orang yang dzolim itu lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya masing-masing” (Qs. Huud : 67)
“Karena itu mereka ditimpa gempa. Maka jadilah mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka” (Qs. al A’roof : 78)
Kaum tsamud yang kafir itu mati bergelimpangan. Hanya Nabi Sholih  ‘alaihi ssalaam  dan orang-orang yang beriman kepada Alloh yang selamat.







>>sumber referensi / rujukan<<


Terjemahan : 

Alqur'anul Karim
Tafsir Ibnu Katsir
Kisah para nabi & Rosul Ibnu Katsir
Tafsir  ‘alaihi ssalaam -sa'di
Tahdzib Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam
Raudhah Al Anwar fi siroh An Nabiy Al Mukhtar
Ar-Rohiqul Makhtum Syafiyurrohman
Nisaa' Haular Rosul
Shohih  ‘alaihi ssalaam  Siroh An Nabawiyah
Hakikat Syahadat Rosululloh